Kenapa Mobil Perlu Ganti Busi?

10/12/2018 Arfian Alamsyah TOP mobil

Jika proses pembakaran pada mesin mobil sempurna, penggantian busi nyaris enggak dibutuhkan. Namun kenapa mesin mobil perlu untuk ganti busi?

Saat tim Mobilmo berkunjung ke bengkel narasumber langganan, ada pertanyaan yang terlontar dari pemilik bengkel yang tim Mobilmo.com kunjungi, yaitu apa perlu sih mobil itu ganti busi? Karena seperti yang kita tahu, mobil modern saat ini proses manufukturnnya sudah bagus. Dan, ketika pengapian tidak bermasalah, otomatis busi juga akan baik-baik saja. Lalu mengapa mobil harus ganti busi?

Oke, jadi begini, perlu dipahami terlebih dahulu, busi merupakan komponen mesin yang biasanya memang sering terlupakan oleh pemilik kendaraan. Padahal peran busi sangat tinggi di mesin. Karena sebagai pemercik api atau listrik di ruang bakar. Coba bayangkan kalau busi gagal bekerja, pasti mobil sampeyan akan mogok.

Peran busi mobil dalam pembakaran di ruang bakar mobil

Busi berperan sangat vital dalam pembakaran di mesin bensin

Lalu apakah busi perlu diganti? Mari kita tanya pada ahlinya yaitu produsen busi, salah satunya NGK. Seperti yang Mobilmo.com kutip dari aftermarketplus, “Telah menempuh jarak 6.000 km untuk motor dan 20.000 km untuk mobil,” papar Diko Oktaviano, Technical Support PT NGK Busi Indonesia. Pria yang akrab Diko ini juga bilang kalau angka tersebut adalah titik awal busi standar mengalami erupsi.

Apa itu erupsi? Erupsi pada busi adalah proses terjadi renggangnya celah atau gap pada busi. Jadi, jika dibiarkan maka secara otomatis busi tidak akan bekerja secara maksimal. Efeknya, pembakaran tidak akan berlangsung optimal karena titik percikan listrik pada busi yang menyebar keamana-mana (tidak fokus).

>>> Baca juga: Mengapa Mesin Overbore Lebih Tahan Terhadap Putaran Tinggi?

Tampak Macam-macam busi mobil

Macam-macam busi mobil, dari mulai standar, platinum, dan iridium

Nah, selain parameter jarak tempuh, ternyata busi juga perlu diganti apabila gap (celah) antar elektroda pada busi telah bertambah sekitar 0,2 mm dari standarnya. Sebagai contoh, celah busi standar yang direkomendasikan adalah 0,8 mm, apabila celah elektrodanya diukur dan diketahui sudah melebar menjadi 1,0 mm atau lebih, maka busi perlu segera diganti baru.

“Ada ciri yang dapat dirasakan oleh para pemilik mobil untuk mengetahui businya masih bagus atau tidak. Coba perhatikan rpm stasioner mesin, apakah stabil atau tidak. Lalu saat akan melakukan starting mesin, apa susah distater atau enggak. Sampai konsumsi bahan bakar yang jadi makin boros atau enggak, itu semua dapat menjadi indikator busi perlu diganti atau enggak,” papar Diko lagi.

>>> Baca juga: Ini Fungsi Rahasia ECU, Sebagai Kotak Hitam Mobil!

Panel spidometer NewHonda HR-V

Jika busi mulai rusak, akselerasi mobil akan terasa tersendat

Perlu Anda ketahui, celah elektroda ini kurisal sekali di mesin, karena apabila Anda mengabaikan busi, usia pakai komponen lainnya akan terganggu. Paling mudah, aki jadi dapat lebih cepat rusak karena perlu melakukan suplai sistem kelistrikan yang lebih besar dari yang seharusnya.

Jadi gampangnya, jika jarak antar elektroda semakin jauh, maka otomatis perlu supali tegangan listrik yang lebih besar, artinya butuh kinerja ekstra dari koil, dan buntutnya adalah kebutuhan akan suplai listrik ke koil yang berasal dari aki akan lebih besar pula. Efek lanjutannya, dinamo ampere akan bekerja secara terus-menerus sehingga akan membeani mesin.

>>> Klik di sini untuk mengetahui informasi tentang review Mobil terlengkap

Mesin Lexus NX Series

Mesin modern, memiliki celah (clearence) yang baik, dan perlu busi yang prima juga agar pembakaran sempurna

Kalau beban mesin sudah bertambah, plus pembakaran tidak sempurna terjadi diruang bakar, akan menurunkan tenaga mesin. So, konsumsi bahan bakar akan menjadi lebih boros akibat kondisi diatas. Jadi, jangan lupa ganti busi mobil Anda ya.

>>> Klik di sini untuk mengupdate tips dan trik otomotif terbaru lainnya!

Mungkin anda ingin baca