Jangan Asal Ngebut Lewat Jalan Tol, Perhatikan Batas Kecepatan

06/06/2019 | Fatchur Sag

Jalan Tol Trans Jawa memberi banyak kemudahan bagi pengendara mobil menempuh perjalanan panjang dari pelabuhan Merak Banten hingga Pasuruan Jawa Timur. Waktu tempuh jadi jauh lebih singkat dibanding melalui jalur non tol baik lewat jalur pantura, jalur tengah maupun jalur lintas selatan.

Meski mudah dan lancar bukan berarti perjalanan bebas risiko. Justru dengan kondisi semacam itu potensi risiko lebih besar. Berkendara tanpa tantangan berarti membuat pengemudi melamun hingga terlena memacu kendaraanya sangat kencang. Bagi Anda yang pernah melewati jalan tol ini tentu tahu bagaimana rasanya kendaraan seolah melaju pelan meski kecepatan sudah mencapai lebih dari 100 km/jam.

>>> Membentang Lebih Dari 1.000 Km, Ini Fakta Menarik Jalan Tol Trans Jawa

Foto menunjukkan puluhan mobil Ferrari melaju di jalan Tol Trans Jawa

Jalan tol bukan untuk kebut-kebutan

Kembali ke masalah risiko, yang mesti diwaspadai para pengguna jalan tol di manapun dan kapanpun, dengan melaju melebihi batas kecepatan tidak hanya melanggar aturan lalu lintas, tapi juga memperbesar risiko dan fatalitas kecelakaan. Kejadian kecelakaan Toyota Innova yang menabrak Honda BR-V dari belakang saat akan memasuki rest area KM 391A pada Selasa (28/05/2019) hingga membuat hancur bagian depan Innova dan menewaskan 4 penumpangnya jadi satu gambaran betapa bahayanya mengemudi mobil dengan sangat kencang.

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 111 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan telah mengatur bahwa batas kecepatan paling rendah adalah 60 km/jam dan paling tinggi 100 km/jam untuk jalan bebas hambatan (termasuk di dalamnya jalan tol). Lebih rendah dari batas bawah dan lebih tinggi dari batas atas berarti melanggar aturan, petugas berhak melakukan tindakan tilang atas pelanggaran ini.

Faktanya, sebagian besar pengguna jalan tol pernah bahkan sering tidak memperhatikan batas kecepatan maksimal. Alasannya beragam mulai dari aji mumpung, mengetes kecepatan maksimal kendaraan, hingga beradu cepat dengan kendaraan lain. Soal risiko tidak lagi dihiraukan, apalagi soal rambu-rambu dianggapnya itu hanya kelengkapan jalan tol saja.

>>> Ingin membeli mobil bekas terbaik di pasaran? Dapatkan informasinya di sini

Foto jalan Tol Trans Jawa yang lengang lengkap dengan rambu-rambu batas kecepatan

Banyak pengguna tol tidak mengindahkan rambu-rambu batas kecepatan

Pakar keselamatan berkendara sekaligus Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu menuturkan perlu adanya sikap disiplin tinggi bagi pengendara untuk tertib berlalu lintas. "Pertama adalah tertib berlalu lintas, dengan tertib penggunaan lajur. Lajur tengah adalah lajur normal, lajur menyalip adalah yang paling kanan, lajur bahu jalan sebagai lajur emergency, komitmen ini yang harus dijaga," tutur Jusri sebagaimana dikutip dari Detik, (29/5/2019). "Sudah saatnya sekarang kita bergerak dengan disiplin dan tertib berlalu lalu lintas, karena tertib ini adalah kebutuhan," lanjutnya.

Hal lain yang menyebabkan banyak pengguna jalan tol mengabaikan batas kecepatan selain sikap disiplin yang rendah adalah soal paradigma. Pengendara beranggapan bahwa celaka atau selamat adalah faktor nasib dengan dalih kalau memang sudah nasib mau jalan pelan pun pasti diseruduk alias celaka. Menurut Jusri Ini adalah paradigma salah yang harus dihilangkan. Garis nasib terjadi karena sebab dan akibat, sedangkan ikhtiyar adalah kewajiban bagi seluruh manusia.

>>> Kendaraan Terlibat Tabrakan Beruntun Bisa Ditanggung Asuransi, Asal...

Foto menunjukkan Toyota Innova yang hancur setelah menabrak Honda BR-V di Tol Trans Jawa ruas Batang-Semarang, empat orang meninggal dunia

Tidak hanya memudahkan, jalan tol juga menyimpang potensi bahaya

Bila dipikir-pikir kecelakaan yang terjadi di jalan raya kebanyakan memang karena faktor kecerobohan dan kekhilafan manusia. "Kecelakaan itu adalah gagalnya strategi, keselamatan itu bukan it's a matter of good luck. Keselamatan itu strategic semuanya terencana, jadi kecelakaan itu bukan apes, itu yang harus dirubah paradigma masyarakat," kata Jusri. "Orang yang mengalami kecelakaan karena gagal mengantisipasi. Mungkin karena meremehkan bahaya, meremehkan aturan atau dia tidak fokus, melakukan pekerjaan lain ketika berkendara misalnya menggunakan hp. Jadi penyebab kecelakaan itu banyak sekali," pungkasnya.

Jadi, bagi Anda yang berencana lewat jalan Tol Trans Jawa atau jalan tol yang lain jangan asal ngebut. Silahkan bawa mobil dengan kencang, namun tetap jaga etika. Berkendaralah dengan baik di lajurnya, tetap fokus dan tetap berdisiplin untuk mematuhi batas kecepatan. Renungkan bahwa orang-orang tercinta menanti kedatangan Anda di rumah dengan selamat.

>>> Klik di sini untuk mengupdate tips dan trik otomotif terbaru lainnya!

Berita sama topik

  • 15/10/2019 | Abdul

    Tips Hemat BBM, Ini Hal Yang Dilakukan Selain Teknik Eco Driving

    Mobil yang hemat bahan bakar biasanya akan lebih laris manis, hal tersebut dikarenakan dapat menekan biaya pengeluaran. Seperti yang diketahui, bahwa untuk membuat mobil lebih hemat dalam konsumsi bahan bakar biasanya dengan mengandalkan teknik berkendara atau biasa disebut dengan Eco Driving. Namun ternyata tidak hanya itu saja, masih ada tips hemat BBM lainnya.

  • 24/09/2019 | Fatchur Sag

    PPJT Diteken, Jalan Tol Semarang-Demak 27 Km Segera Digarap

    Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) untuk proyek Jalan Tol Semarang-Demak resmi ditandatangani antara Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan PT Pembangunan Perumahan Semarang Demak di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Jakarta, Senin (23/9/2019). Dengan demikian proyek pembangunan jalan tol Semarang-Demak bisa segera digarap.

  • 23/09/2019 | Fatchur Sag

    Ada Smart SIM, Yang Lama Perlu Ganti?

    Selain berlaku sebagai Surat Izin Mengemudi, Smart SIM menawarkan berbagai layanan digital yang sangat menarik seperti identitas diri layaknya KTP serta jadi uang elektronik yang bisa dipakai beragam keperluan. Lantas, perlukan SIM lama diganti dengan Smart SIM?