Mobil Gagal Nanjak, Bukan Karena Faktor Mobilnya Saja

13/06/2018 Fat Pengemudian mobil

Ruas tol Salatiga - Kartasura makin populer saja dikalangan para pengemudi. Bukan karena bisa mempersingkat jarak tempuh pemudik ke wilayah timur Jawa Tengah hingga masuk Jawa Timur, tapi karena adanya tanjakan ekstrim di salah satu lokasinya, yaitu Jembatan Kenteng yang membuat mobil banyak yang gagal nanjak.

Gerbang tol salatiga dengan pemandangan menawan

Ruas tol Salatiga - Kartasura sudah bisa dilewati secara fungsional untuk mudik lebaran

Jembatan Kenteng di ruas tol Salatiga - Kartasura adalah salah satu jembatan jalan tol trans Jawa yang masih dalam tahap konstruksi. Pihak pengembang membuatkan jalan alternatif yang melintas di bawah kontruksi Jembatan Kali Kenteng berupa jalan keras betonisasi agar bisa digunakan sebagai tol fungsional saat musim lebaran tiba.

Rupa-rupanya, banyak yang tak siap dengan tajamnya jalur alternatif jembatan Kali Kenteng tersebut. Video viral beberapa mobil mati saat sampai di tengah tanjakan.

Mengomentari kejadian ini, Pereli nasional sekaligus Direktur Rifat Drive Labs (RDL) Rifat Sungkar menuturkan kejadian mobil gagal nanjak sebenarnya bukan karena faktor kemiringan jalur itu sendiri. Namun, lebih karena faktor lain.

Mobil-mobil yang dijual di pasaran Indonesia sudah disesuaikan dengan kondisi geografis Indonesia, termasuk jalur-jalur menanjak dan perbukitan. Secara logika mobil mampu melintasi di berbagai medan. Jika pun ada kegagalan, hampir bisa dipastikan ada faktor lain yang mempengaruhi seperti faktor pengemudi dan beban yang dibawa dalam kendaraan.

>>> Kendaraan Mogok Di Jalan Tol, Lakukan 3 Langkah Ini

jalur alternatif Jembatan kali kenteng tol salatiga - kartasura kabupaten semarang

Jalur alternatif jembatan Kali Kenteng di ruas tol Salatiga - Kartasura Kabupaten Semarang sering kali mobil gagal nanjak

"Kejadian ini cukup sering terjadi pada arus mudik. Sebagai pemudik kita harus paham bagaimana cara mengantisipasi jalan tanjakan dengan kapasitas barang bawaan yang berat, apalagi menggunakan mobil bertransmisi manual," tulis Rifat kepada salah satu media otomotif, Senin (11/6/2018).

Pertama pengemudi kurang memahami teknik yang tepat saat melewati tanjakan tajam. Problem mobil gagal nanjak ini sering kali dialami pada mobil-mobil dengan transmisi manual. Menurut Rifat, yang paling penting adalah bagaimana menempatkan gigi yang tepat, dan mutlak untuk melewati tanjakan tajam pengemudi harus menggunakan gigi satu sejak dari bawah.

"Orang banyak berbuat kesalahan yang membuat mobil jadi mundur di tanjakan karena mereka menganggap bisa dan mudah untuk beradu cepat ketika melepaskan pedal rem, mengangkat kopling, dan injak gas. Tidak ada sinkronisasi yang baik ketika melakukan hal-hal tersebut," tambah Rifat.

Teknik adu cepat ini punya risiko cukup besar. Makin berat mobil makin besar risikonya. Apalagi kebanyakan pengemudi gengsi menggunakan piranti keamanan yang sudah tersedia di mobil, yaitu rem tangan. Malu dianggap tidak mahir bawa mobil. Padahal piranti ini sangat membantu memudahkan pengemudi saat melewati tanjakan-tanjakan tajam.

>>> Siapkan Saldo E-Toll Yang Banyak, Berikut Tarif Jalan Tol Operasional Trans Jawa

"Di tanjakan, tidak usah malu atau gengsi untuk menarik rem tangan. Manfaatkan rem tangan tersebut semaksimal mungkin karena fungsi rem tangan sejatinya adalah untuk mempermudah Anda dalam berkendara. Ketika mobil terpaksa berhenti di tanjakan, tarik rem tangan pada saat itu juga!" tegas Rifat.

Petugas mendorong mobil daihatsu Ayla yang gagal nanjak di jembatan kenteng salatiga

Mobil gagal nanjak di tanjakan jalur alternatif jembatan Kali Kenteng menambah beban kerja petugas

Satu masalah selesai kalau mobil sudah dinetralkan dan rem tangan ditarik. Tinggal ke step berikutnya, yaitu menjalankan mobil.

Secara teknik, menjalankan mobil di tengah tanjakan dalam posisi mobil berhenti seperti di atas cukup mudah. Hanya saja banyak yang tidak mengindahkan teori ini dan seperti tadi diatas, lebih suka beradu cepat.

"Langkahnya adalah sebagai berikut, rem tangan biarkan memainkan perannya. Injak pedal kopling, masukkan gigi satu, dan injak gas. Angkat kopling sedikit untuk membuat mobil ini terasa menghentak. Dengan menambah daya injak pedal gas, rasakan terlebih dahulu tenaga mobil yang semakin besar dan semakin menghentak sembari mengangkat pedal kopling secara perlahan. Dalam keadaan seperti ini, rem tangan siap dilepas dan mobil akan melaju," tulis Rifat agak panjang.

>>>  Terus ikuti tips & trik seputar otomotif di Mobilmo.com

Rifat menyimpulkan, secanggih apapun teknologi pada kendaraan, pada akhirnya kembali juga pada pengemudi bagaimana memanfaatkannya.

"Pada akhirnya, apapun kendaraannya, secanggih apapun teknologinya, sebagai pengendara kita harus mempunyai feeling dan irama yang kuat supaya proses berkendara terasa aman dan pada saat mudik berlangsung tidak ada perasaan panik saat melalui tanjakan," tutup Rifat.

>>> Mau cari mobil buat keluarga? Di cintamobil.com saja, koleksinya banyak harganya juga menguntungkan!

Mungkin anda ingin baca