Apakah Boleh Supir Bus Antar Provinsi Tidak Berpuasa Saat Ramadhan?

16/05/2018 Abdul Kosim Pengemudian mobil

Perkembangan zaman semakin cepat, tunggangan seseorang juga silih berganti. Sebelumnya seseorang menaiki sepeda ontel kemudian sepeda motor sampai Mobil. hal tersebut tidak terlepas dengan banyaknya produksi kendaraan yang dilakukan oleh pihak produsen. Bahkan berbagai angkutan umum juga sudah banyak beredar, dari mulai ojek yang menggunakan sepeda motor sampai Bus dengan daya tampung yang banyak. Lantas apakah boleh supir bus antar provinsi tidak berpuasa di bulan ramadhan?

Supir bus antar provinsi mengemudi dalam jarak yang panjang, tentunya bagi sebagian yang belum tahu akan hukum puasa akan kebingungan dibuatnya. Berikut ini merupakan beberapa penjelasan megenai masalah tersebut.

Hukum supir yang meninggalkan puasa ramadhan

Perlu diketahui, bahwa supir bus antar provinsi dapat digolongkan sebagai seorang musafir. Dengan begitu mereka mendapatkan sedikit keringanan pada indah tertentu seperti puasa.

Firman Allah SWT:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Yang artinya:

“Siapa yang sakit diantara kalian atau sedang bepergian, maka (wajib) menggantinya di hari yang lain [Q.S. al-Baqarah (2): 184].”

Berhubungan dengan ayat di atas, penjelasan dari Imam al-Maraghi mengatakan, bahwasanya orang yang sedang sakit atau safar maka diwajibkan untuk mengganti puasanya di lain hari. Untuk masalah sakit, dari sebagian ulama mensyaratkan bahwasanya sakit yang didderita tergolong dalam kategori sakit keras yang menjadikan orang tersebut sangat sulit untuk menjalankan ibadah puasa.

Gambar ini menunjukkan seorang supir bus dengan baju merah sedang menekan tombol

Supir bus antar provinsi merupakan salah satu pekerjaan yang melelahkan

Hal tersebut juga berdasarkan dengan ayat pada Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah (2):185 yang artinya “Allah mengehendaki kemudahan bagimu, dan tidak menginginkan kesukaran [Q.S. al-Baqarah (2): 185].”

Akan tetapi sebagian ulama seperti Imam al-Bukhari, ‘Atha dan Ibnu Sirin mengatakan. Bahwasanya sakit apapun bisa menjadi keringanan atau rukhshah untuk tidak menjalankan ibadah puasa. Hal tersebut dikarenakan sakit bisa berdampak buruk pada orang sakit meskipun tidak membuatnya berat.

>>> Klik di sini untuk mengetahui informasi mengenai melakukan perjalanan saat berpuasa

Bisa jadi hal tersebut dapat membuat penyakit bertambah parah ataupun dalam masa pemulihan menjadi terasa agak lama. Selain itu, dalam menentukan kadar “kesukaran” pada orang yang sakit merupakan sesuatu yang cukup sulit. Tidak hanya itu, mengetahui akibat yang akan terjadi bagi orang yang sakit untuk  berpuasa juga lebih sulit lagi (lihat Tafsir al-Maraghi, II: 71).

Jadi alangkah lebih baik untuk saat ini bisa berkonsultasi kepada tenaga ahli atau dokter soal penyakit yang dideritanya. Dengan begitu dapat mengambil langkah tepat terkait masalah puasa dan apa dampak yang dihasilkan mengenai penyakit tersebut.

Gambar ini menunjukkan sebuah mobil bus di malam hari dengan lampu menyala

Puasa merupakan kewajiban bagi semua umat Islam

Sedangkan terkait masalah supir bus antar provinsi berkaitan dengan jarak yang ditempuh. Dalam hal ini ada perbedaan pendapat dari ulama seperti Imam asy-Syafi’i, al-Auza’i. Al-Laits dan lainnya mengatakan, bahwasanya tidak diperbolehkan untuk melakukan qhasar pada shalat dan juga membatalkan puasa (wajib) terkecuali telah menempuh jarak yang ditentukan yakni 2 marhalah. Untuk 2 marhalah jika dihitung dalam jarak umum adalah 80 km. Sedangkan pendapat dari Imam Abu Hanifah serta Ulama Kufah berbeda dalam hal jarak, yakni 3 marhalah atau sekitar 120 km.

>>> Klik di sini untuk mengetahui informasi mengenai Mobil keluaran Honda

Sedangkan Imam al-Bukhari  membuat bab mengenai masalah tersebut dalam shahihnya yang memiliki judul “Bab tentang berapa jarak (safar) yang dibolehkan qashar shalat; nabi menyebutkan perjalanan selama sehari semalam. Ibnu Umar dan Ibnu Abbas mengqashar shalat dan membatalkan puasa (wajib) jika menempuh perjalanan sejauh 4 burd atau 16 farsakh (sekitar 80 km)” (lihat al-Awsath karya Ibnu Mundzir, IV: 346-351, Fath al-Bari, II: 566-568).

Sandaran mengenai pendapat di atas terdapat pada riwayat berikut ini:

عَنْ شُعْبَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ الْهُنَائِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ قَصْرِ الصَّلَاةِ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلَاثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلَاثَةِ فَرَاسِخَ شُعْبَةُ الشَّاكُّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

“Dari Syu’bah, dari Yahya bin Yazid al-Hunaiy, ia berkata; Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang (perjalanan yang membolehkan) qashar shalat, lalu ia berkata: ‘Dulu, apabila Rasulallah saw keluar (melakukan safar) sejauh 3 mil atau tiga farsakh –Syu’bah ragu dalam hal ini- maka beliau shalat sebanyak dua rakaat (pada shalat wahib yang empat rakaat) [H.R. Muslim (691), Abu Dawud (1201), Ahmad (12313), Ibnu Abi Syaibah (8123). Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth].”

>>> Baca juga, Beberapa Tips Perjalanan Mudik Dengan Kendaraan Umum Supaya Aman

Puasa ramadhan dilakukan oleh setiap muslim dan hukumnya wajib bagi yang sudah mukallaf. Bagi supir bus antar provinsi apabila melakukan puasa dapat dijalankan dengan ringan tanpa ada masalah. Namun apabila tidak kuat dan khawatir malah membahayakan penumpang atau pengendara lain maka mendapatkan keringanan seperti yang telah dijelaskan. Pada intinya adalah apabila perjalanan belum mencapai 80 km berarti tidak boleh untuk membatalkan puasa. Namun jika sudah mencapainya bahkan melebihi maka bisa membatalkan puasa dengan syarat meng-qadla di hari yang lain. Anda bisa melihat penjelasan lebih detail di Syarh Muntaha al-Iradat, I: 478, Fatawa Nur ‘Ala ad-Darb, III: 1230, dan Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, X: 233. Wallahu ‘alam bi ash-shawab.

Gambar ini menunjukkan 2 buah bus sedang terparkir di terminal mobil dan beberapa orang sedang berjalan di dekatnya

Terdapat juga Supir bus yang tidak ada kesulitan untuk menjalankan puasa

Namun jangan sampai salah tanggap. Jarak tersebut bukan jarak penggabungan bolak balik. Akan tetapi jarak yang ditempuh dengan rute yang jauh seperti antar provinsi.

Demikianlah informasi mengenai boleh tidaknya supir bus antar provinsi tidak berpuasa. Semoga bermanfaat dan jangan lupa membaca artikel menarik lainnya.

Mungkin anda ingin baca

  • Tips Olahraga Ringan Bagi Pengendara Untuk Menjaga Stamina
    Pengemudian mobil Abdul Kosim

    Tips Olahraga Ringan Bagi Pengendara Untuk Menjaga Stamina

    15/05/2018

    Saat berpuasa kondisi tubuh akan menurun saat di siang hari. mungkin ketika di pagi hari masih dapat beraktivitas seperti biasa baik bekerja, mengemudi Mobil dan lainnya. Akan tetapi ketika matahari sudah mulai naik biasanya rasa lemas, lesu dan kantuk akan menghinggapi. Apalagi bagi pengendara harus tetap menjaga kondisinya supaya tetap dapat fokus terhadap jalan. Oleh sebab itu olahraga ringan bagi pengendara sangat dianjurkan supaya stamina tetap terjaga.

  • Beberapa Tips Berbuka Puasa Saat Perjalanan Dengan Mobil
    Pengemudian mobil Abdul Kosim

    Beberapa Tips Berbuka Puasa Saat Perjalanan Dengan Mobil

    12/05/2018

    Bulan ramadhan umat Islam akan melakukan puasa sehari penuh untuk menahan lapar dan dahaga serta nafsu. Bulan puasa terkenal akan keberkahan dan juga ibadah wajib dengan pahala yang besar. Baik wanita, pria, pekerja, pengendara dan apapun profesinya akan melakukan puasa bagi yang beragama Islam. Terdapat beberapa hal yang sangat menyenangkan dilakukan yakni berbuka puasa. Bahkan berbuka puasa saat perjalanan juga kerap terjadi bagi pengendara yang sedang bepergian.

  • Beberapa Tips Untuk Menjaga Emosi Ketika berkendara Di Bulan Puasa
    Pengemudian mobil Abdul Kosim

    Beberapa Tips Untuk Menjaga Emosi Ketika berkendara Di Bulan Puasa

    09/05/2018

    Pada saat puasa menjaga emosi dalam perjalanan menggunakan Mobil atau motor sangat diperlukan. Dengan begitu ibadah puasa yang sedang dijalankan tidak rusak. Namun kadangkala dengan kondisi lapar dan haus ditambah suasana yang kurang baik, untuk menjaga emosi ketika berkendara kadang sulit dilakukan.