Ini Masalahnya Penjualan Sedan Sangat Jeblok

22/01/2018| Mobilmo.com

Segmen sedan sepertinya makin kurang diminati di Indonesia. Data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan penjualan sedan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Bila tahun 2016 total sedan yang terjual masih bisa mencapai angka 13.832 unit, tahun 2017 lalu anjlok menjadi 9.139 unit. Turun sebesar 34 %. Selain harga yang relatif lebih tinggi dari segmen lain lantaran beban pajak, faktor yang membuat masyarakat kurang berselera naik sedan menurut anggapan banyak orang adalah kondisi jalanan di Indonesia yang tidak sepenuhnya rata atau dalam kondisi baik.

Toyota Vios, tulang punggung pasar ekspor sedan produksi Indonesia

Harga sedan memang kalah murah dari mobil sejuta umat MPV, padahal dari segi kapasitas angkut MPV lebih unggul. Kalau soal banyak jalan yang rusah bikin orang tidak suka naik sedan, Kukuh Kumara selaku Sekjen Gaikindo kurang sependapat. Buktinya, dalam beberapa tahun terakhir banyak jalan raya baru yang pasti mulus. Jalan-jalan raya lawas, juga banyak yang sudah dibikin mulus. "Banyak jalan rusak kemudian orang nggak suka pakai sedan saya kira tidak. Sekarang jalan mulus-mulus banyak diperbaiki, malahan sekarang ini banyak jalan-jalan baru dibangun," tutur Kukuh kepada media. Kalau menurunnya minat konsumen pada mobil sedan dikarenakan banyaknya polisi tidur, Kukuh juga tak sependapat. Tak ada kaitannya dengan penjualan sedan. "Nggaklah. Polisi tidur itu kan fungsinya buat memperlambat, supaya nggak kencang-kencang," tambahnya.

Toyota Camry, salah satu model sedan yang dipasarkan di Indonesia

Gaikindo lebih menyoroti pada masalah perpajakan. Seperti yang pernah disampaikan Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiharto menurunnya penjualan mobil segmen sedan lebih banyak disebabkan tingginya beban pajak. Sedan dikategorikan sebagai barang mewah sehingga terkena aturan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBm) di Indonesia yang besarnya 30 %. Selisih jauh dengan pajak mobil-mobil MPV yang nilai PPnBM-nya hanya sebesar 10%. Jongkie bahkan berandai-andai, seumpama nilai pajak sedan bisa setara MPV, pasti segmen ini bakal bersaing ketat. "Terbukti dengan PPnBM di MPV 10% penjualannya luar biasa. Pembeli akan pindah ke sedan kalau harganya sama dengan MPV, samakan saja tarif (pajak) dengan MPV," kata Jongkie.

Avanza, salah satu model MPV paling laris di Indonesia

Dia juga menambahkan kalau sebenarnya masih banyak masyarakat yang minat pada mobil sedan. Tapi karena kemahalan akhirnya pindah ke yang lain seperti MPV. "Kita lakukan survei, kenapa banyak orang beli MPV? Sebagian orang ternyata merasa nggak perlu 7 seat, maunya sedan saja. Tapi mampunya beli MPV, bukan sedan. Banyak yang merasa lebih enak pakai sedan, tapi harganya nggak terjangkau," tutup Jongkie. Baca :

International